
YOGYAKARTA — Jurusan Etnomusikologi sukses menyelenggarakan festival “Layar Nada”, sebuah ruang apresiasi, refleksi, dan dokumentasi film dokumenter musik yang mengangkat kekayaan tradisi Nusantara. Berlangsung selama tiga hari pada 11–13 Mei 2026 di Gedung Mini Concert, perhelatan ini menjadi bukti nyata dari penerapan applied etnomusikologi, di mana ilmu akademis tidak hanya berhenti di ruang kuliah tetapi hadir langsung memberikan dampak di tengah masyaraka.
Selama tiga hari festival, sebanyak 12 karya film dokumenter musik yang beragam berhasil diputar kepada publik, dengan menyajikan empat film di setiap harinya. Setiap karya yang ditayangkan merupakan hasil riset dan produksi mendalam dari para mahasiswa etnomusikologi. Melalui pendekatan yang humanis, mereka berhasil menggali serta mendokumentasikan keberagaman praktik musik di Indonesia, sekaligus merefleksikan semangat “kampus berdampak” yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil komunitas lokal.
Hari pertama festival ditandai dengan momen bersejarah peluncuran buku arsip maestro berjudul “Maestro Akar Rumput: Kisah Perempuan Penjaga Tradisi yang Terlupakan”. Buku ini secara khusus mendokumentasikan kisah-kisah perempuan yang menjadi tulang punggung pelestarian tradisi musik lokal namun kerap luput dari perhatian sejarah resmi. Agenda hari pertama kemudian ditutup dengan pemutaran empat film dokumenter musik perdana yang disaksikan oleh masyarakat umum dan sivitas akademika.
Memasuki hari kedua, festival meluncurkan platform digital berupa website pengarsipan karya musik Hasan Bahasyuan. Platform ini dirancang untuk melestarikan serta menyebarluaskan warisan karya sang maestro agar tetap terjaga bagi generasi mendatang, sekaligus menjadi jembatan apresiasi antara khazanah musik masa lalu dan publik modern. Bersamaan dengan peluncuran platform tersebut, empat film dokumenter musik lainnya juga turut ditayangkan.
Rangkaian festival resmi ditutup pada hari ketiga dengan pemutaran empat film dokumenter musik terakhir sebagai puncak acara. Sesi penutup ini juga membuka ruang diskusi dan refleksi interaktif antara sineas, peneliti, dan penonton mengenai pentingnya peran dokumentasi dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Indonesia.
Melalui kesuksesan Layar Nada, Jurusan Etnomusikologi menegaskan kembali komitmennya dalam tiga hal utama: menjadikan riset akademis sebagai instrumen nyata pelestarian budaya, membuka akses dokumen musik perguruan tinggi kepada masyarakat luas, serta memberikan pengakuan bagi para pelaku tradisi—khususnya perempuan—yang perannya sering terpinggirkan. Inisiatif ini membuktikan bahwa luaran institusi pendidikan mampu memberikan dampak nyata secara sosial, budaya, dan ilmiah, melebihi sekadar pemenuhan capaian formal akademik.