
YOGYAKARTA, 13 Mei 2026 – Menyambut perayaan Dies Natalis ke-42 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi Penciptaan Musik meluncurkan sebuah proyek seni ambisius bertajuk “SONUS MOVENTES #1”. Pergelaran yang diselenggarakan di Concert Hall ISI Yogyakarta ini tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan biasa, melainkan sebuah ruang eksperimentasi wacana mendalam bertema “Musik yang Menggugat”. Langkah ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa daya tawar kreativitas manusia tetap berdiri kokoh dan tinggi di tengah gempuran teknologi Artificial Intelligence (AI) saat ini.
Menembus Batas Melalui Estetika Nomadik.
Ketua Pelaksana, Harly Yoga Pradana, S.Sn., M.Sn., mengungkapkan bahwa pemilihan nama “Sonus Moventes” yang berarti suara yang bergerak atau menggerakkan membawa visi yang sangat strategis bagi institusi. Proyek ini diproyeksikan menjadi motor penggerak yang membawa karya penciptaan musik akademis kampus ke kancah global. Pada edisi perdana ini, seluruh komposer sepakat untuk merespons isu “Estetika Nomadik”, sebuah gagasan yang berakar dari pemikiran filsuf Gilles Deleuze. Konsep ini menantang para seniman untuk keluar dari struktur musik yang statis dan mapan (state), membawa karya mereka menuju kondisi becoming—sebuah proses pergerakan kesadaran yang terus-menerus melampaui batas-batas kultural serta teknis konvensional.
Berbeda dari format tahun-tahun sebelumnya yang didominasi oleh kalangan dosen, perhelatan kali ini mencetak tonggak baru dengan melibatkan mahasiswa secara aktif sebagai komposer. Sinergi lintas generasi ini terwujud berkat kolaborasi kuat antara civitas akademika, Kompazz (Komunitas Pencipta Musik), KKM (Kelompok Kreativitas Mahasiswa), serta sokongan teknis dari ArsLab.
Eksplorasi 14 Karya Inovatif
Dari total 14 karya yang berhasil dikurasi, para komposer menampilkan berbagai pendekatan yang segar dan berani. Budhi Ngurah melalui “Grand Duo No. 2” meleburkan idiom pentatonis Slendro dan Pelog lewat eksplorasi violin dan combo band. Sementara itu, Ramya Shafiqa S.B. dalam “Misaligned Dialogue” menggunakan prosedur aleatorik dengan bantuan dadu untuk merepresentasikan keriuhan kognitif dan fragmentasi komunikasi manusia.
Pembongkaran struktur tradisional juga tersaji dalam karya “Hinge” milik Adi Wijaya yang mengedepankan improvisasi kolektif yang egaliter. Jiwa nomadik pun terasa kental pada karya “Titik-Titik” yang secara berani mendekonstruksi pakem-pakem mapan musik Keroncong. Tidak ketinggalan, pendekatan berbasis teknologi hadir dalam “Unfolding Order I”, sebuah komposisi yang memanfaatkan algoritma Cellular Automata untuk mendistribusikan harmoni spektral.