New Delhi, India – Program Studi Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali tampil di panggung internasional. Pada 12 Oktober 2026, ISI Yogyakarta mewakili Indonesia dalam BRICS India Theatre Festival 2026 yang digelar di National School of Drama (NSD), New Delhi, pada 12-14 Oktober 2026. Festival ini mengusung tema “A Celebration of Theatre, Art and Culture”.
Festival yang diselenggarakan oleh Ministry of Culture, Government of India ini mempertemukan kelompok teater dari sembilan negara, yaitu India, Indonesia, Thailand, Rusia, Vietnam, Iran, Ethiopia, Afrika Selatan, dan Kazakhstan. Pertunjukan digelar di sejumlah venue di Delhi, antara lain Abhimanch NSD, LTG Auditorium, Shriram Centre, Kamani Copernicus Marg, dan Meghdoot Auditorium. Upacara pembukaan dihadiri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata India, Gajendra Singh Shekhawat.
Indonesia membawakan karya Iluh Tana (Tears of the Earth), yang dipentaskan pada 12 Oktober 2026 pukul 15.30-16.30 pm waktu setempat di LTG Auditorium, Copernicus Marg. Karya berdurasi 50 menit ini ditulis dan disutradarai Silvia Anggreni Purba, M.Sn., dosen Teater ISI Yogyakarta, dengan menggunakan dua bahasa: Indonesia dan Karo. Para pemainnya adalah Nabila Majid dan Henrikus Elton Maldo. Tim kreatifnya terdiri atas Desthree Elisabet Manurung (koreografer), Feri Ludiyanto (tata panggung), MelanCholis (konsep visual), Djati Wiraguna (tata cahaya), Monkey meme (kostum), serta Dadang Maulana, Mayang, dan Dewi (tata rias). Musiknya digarap oleh Sharing Tone, Jons Music, dan Rizky Prananta Perangin angin, dengan Mezzaluna Fitri Nasution dan Raditya Dwi Putra M sebagai tim produksi.
Iluh Tana menghadirkan bumi sebagai sosok ibu yang terluka. Tana digambarkan punya tubuh, ingatan, dan rasa sakit, tetapi tetap memberi meski kondisinya kian memburuk. Karya ini bertolak dari Erpangir Ku Lau, ritual penyucian diri masyarakat Karo yang biasanya dilakukan di sumber air. Silvia tidak memindahkan ritual itu ke panggung, tetapi memakainya sebagai pengetahuan adat yang mengajak penonton meninjau ulang hubungan manusia dengan alam. Dalam catatan sutradara, Silvia, karya ini lahir dari keresahan atas banjir di Sumatra dan kebakaran hutan di Kalimantan.
Pementasan ini mendapat tanggapan positif dari Ms. Priyanka Chandra, Director di Ministry of Culture, Government of India. Sebagai bentuk apresiasi, Token of Appreciation diberikan oleh Ms. Priyanka Chandra bersama Shri Chittaranjan Tripathy, Direktur National School of Drama. Akun resmi NSD juga menyebut bahwa Iluh Tana memukau penonton lewat ekspresi artistik yang khas sekaligus simbolik dan penceritaan teatrikal yang kuat. Pementasan ini turut disiarkan langsung melalui kanal YouTube, sehingga dapat disaksikan khalayak yang lebih luas di luar ruang pertunjukan.
Di luar pentas, festival ini memuat sesi interaktif antara perwakilan sekolah teater dari negara peserta dengan mahasiswa dan dosen NSD. Dua sesi akademik juga digelar pada 13 Oktober, dengan topik Natyashastra dan seni pertunjukan serta teater musikal sebagai pertemuan musik, drama, dan gerak. Para peserta juga bisa menyaksikan karya dari negara lain, seperti Samudra Manthan dari India, Lak Sida dari Thailand, Oh, Bayadere! Dan, Circus On Strings dari Russia, Steel Land dari Vietnam, Hidden dari Iran, Land Of The Ancients dari Ethiopia, Someone dari Afrika Selatan, dan Kya Zhibek dari Kazakhstan. Festival ditutup pada 14 Oktober dengan upacara penutupan yang dilanjutkan pementasan Louha Purush, kisah kehidupan Sardar Vallabhbhai Patel.
Keikutsertaan di festival ini menjadi langkah penting bagi ISI Yogyakarta dalam mengenalkan budaya Indonesia di tingkat internasional, sekaligus membuka kesempatan untuk menjalin relasi akademik dengan institusi seni dari berbagai negara. Bagi civitas akademika, pengalaman ini tentu sangat berharga. Melalui Iluh Tana, kearifan lokal masyarakat Karo dapat dihadirkan kepada penonton dunia lewat bahasa yang bisa dipahami siapa saja, yaitu pertunjukan. Lebih dari itu, karya ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus peduli pada kondisi bumi. Seperti digambarkannya lewat sosok Tana, bumi adalah ibu yang terus memberi, dan sudah sepatutnya kita menjaganya dengan sungguh-sungguh.
Penulis: Viyana Lastina Ristika