Seminar dalam rangka Sepatu Menari Spektakuler 5

Selain menampilkan berbagai macam pertunjukan, Sepatu Menari Spektakuler 5 juga diisi dengan acara seminar sesuai dengan tema kegiatan, yaitu Tubuh Tradisi di Era Milenial. Seminar ini diselenggarakan di Teater Arena Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, pada Selasa, 22 Oktober 2019, mulai pukul 08.00 s.d 10.00 WIB.  Nara Sumber dari kegiatan ini adalah Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro dan Dr. Martinus Miroto, dengan moderator Dr. Rina Martiara. Acara dihadiri oleh mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi seni di Indonesia, antara lain IKJ, ISBI Bandung, PSDKU ISI Yogyakarta Rintisan ISBI Kalimantan Timur,  ISI Denpasar, ISI Surakarta, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, ISI Yogyakarta dan para seniman. Selain itu turut hadir Dekan FSP, dan dosen-dosen Jurusan Tari.

Dalam ulasannya, nara sumber Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro menyampaikan beberapa hal, yaitu:

  1. Siapa Generasi Milenial. Generasi milenial adalah generasi yang lahir di tahun 1982-2004. Menurut studi, generasi ini tidak mementingkan kepemilikan, status. Mereka concern terhadap isu-isu lingkungan. Generasi yang lebih mementingkan karya dan prestasi yang menggemparkan, kehadiran di ranah virtual lebih banyak dibandingkan di ranah nyata, senang berpergian, senang berkolaborasi, spiritnya tidak lagi pada teritorial, pengelompokkan, terkotak-kotak
  2. Seni di Era Milenial. Seni tradisi justru semakin diminati. Yang asli makin dicari, dan akses untuk mendapatkannya lebih mudah karena teknologi. Orang mempunyai kemampuan untuk menemukan sesuatu yang otentik di setiap daerah (termasuk seni)
  3. Bagaimana menyikapi seni tradisi di era Milenial. Lihat yang mana kulit yang mana isi. Jangan hanya mempersoalkan bentuknya, karena akan terjebak pada persoalan kulit luarnya saja. Isi, akan berkaitan dengan “rasa”, nilai-nilai, filosofi, spiritualitas. Orang akan semakin selektif

Simpulan:

  • Inovasi adalah kebutuhan, inovasi adalah kewajiban. Karena  yang abadi itu adalah perubahan.
  • Selalu muncul penolakan di dalam perkembangan. Namun pandanglah penolakan itu sebagai rambu-rambu yang membuat kita selalu berada dalam koridor yang baku.
  • Pada saat berinovasi harus berpikir lebih dalam dan lengkap sehingga kita akan meguasai persoalan, dan ketika kita berdialog kita bisa beragumentasi dengan benar tentang apa yang kita maksudkan.
  • Terakhir, buktikan bahwa apa yang kita lakukan menghasilkan sesuatu yang diapresiasi oleh masyarakat.

(dok.Rina Martiara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *