“Estetika Tanpa Sekat: Seni, Akses, Aksesibilitas, dan Inklusi Sosial”

“Estetika Tanpa Sekat: Seni, Akses, Aksesibilitas, dan Inklusi Sosial”

PRESS RELEASE
Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Gelar Seminar Akademik “Estetika Tanpa Sekat: Seni, Akses, Aksesibilitas, dan Inklusi Sosial”
Yogyakarta, 5 November 2026. Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menyelenggarakan Seminar Akademik bertajuk “Estetika Tanpa Sekat: Seni, Akses, Aksesibilitas, dan Inklusi Sosial” pada Kamis, 5 November 2026, bertempat di Concert Hall ISI Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–13.00 WIB ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang akademisi dan praktisi yang memiliki perhatian terhadap persoalan seni, perempuan, disabilitas, serta inklusivitas sosial.
Seminar ini menjadi ruang akademik untuk memperluas pemahaman mengenai seni yang tidak hanya berorientasi pada nilai estetika dan ekspresi artistik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam membangun ruang yang terbuka, setara, dan dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat. Melalui tema Estetika Tanpa Sekat, kegiatan ini mendorong refleksi kritis mengenai bagaimana praktik seni, pendidikan seni, dan institusi kebudayaan dapat menghadirkan lingkungan yang lebih inklusif tanpa mengabaikan keberagaman pengalaman manusia.
Seminar menghadirkan tiga narasumber, yaitu Indiah Wahyu Andari, S.Psi., Direktur Rifka Annisa Women’s Crisis Center; Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., Dosen Universitas Gadjah Mada; serta Dr. Lephen Purwanto, S.Sn., M.Sn., M.Sc., Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Kehadiran ketiga narasumber diharapkan dapat memberikan perspektif multidisipliner dalam membahas keterkaitan antara seni, relasi gender, aksesibilitas, dan inklusi sosial. Perspektif praktis dari lembaga pendampingan perempuan, kajian akademik humaniora, serta pengalaman dan keilmuan di bidang seni menjadi landasan penting untuk mendiskusikan bagaimana seni dapat berperan dalam membangun kesadaran, mengurangi diskriminasi, dan membuka kesempatan partisipasi yang lebih luas.
Dalam konteks pendidikan tinggi seni, isu aksesibilitas dan inklusi sosial menjadi semakin relevan. Perguruan tinggi seni tidak hanya dituntut menghasilkan karya dan sumber daya manusia yang unggul secara artistik, tetapi juga perlu membangun ekosistem pendidikan yang menghargai perbedaan, memberikan kesempatan yang setara, serta memastikan bahwa setiap individu memiliki ruang untuk berekspresi dan berpartisipasi dalam kehidupan seni dan budaya.
Melalui seminar akademik ini, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta menegaskan pentingnya dialog antara pengetahuan artistik, kesadaran sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan. Seni diharapkan tidak berhenti sebagai praktik penciptaan dan apresiasi keindahan, melainkan menjadi medium refleksi, advokasi, dan transformasi sosial.
Kegiatan ini juga terbuka sebagai ruang pertemuan dan jejaring akademik bagi sivitas akademika, mahasiswa, praktisi seni, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap perkembangan seni dan isu inklusivitas.
Seminar Akademik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan ekosistem seni yang lebih adil, aksesibel, dan inklusif. Seminar akademik ini diikuti oleh 220 peserta yang terdiri dari kalangan mahasiswa, dosen, seniman, peneliti, komunitas, dan masyarakat umum.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

id_IDID